Halo, V&Co Friends! Menyiapkan pernikahan seringkali terasa seperti sedang menguji “otot” kedewasaan kita. Salah satu ujian terberatnya? Apalagi kalau bukan menyelaraskan visi tentang budget nikah antara kamu, pasangan, dan orang tua.
Di Indonesia, pernikahan sering dianggap sebagai hajat keluarga besar. Namun, di tahun 2026 ini, di mana biaya hidup dan ekspektasi gaya hidup semakin tinggi, menetapkan batasan finansial bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan. Tujuannya satu: agar setelah pesta usai, kamu dan pasangan tidak memulai hidup baru dengan “napas yang tersengal-sengal” karena beban utang atau stres finansial.
Mengapa Batasan Itu Penting?
Menetapkan batasan bukan berarti kamu tidak hormat atau pelit. Ini adalah tentang transparansi. Tanpa batasan yang jelas, ekspektasi akan terus berkembang secara liar. Orang tua mungkin mengira kamu memiliki dana lebih, sementara kamu mungkin berharap orang tua akan menutupi kekurangan biaya. Jika komunikasi ini buntu, yang muncul adalah rasa bersalah dan kebencian (resentment).
Ingat, kamu sedang membangun fondasi rumah tangga. Cara kamu menangani diskusi budget ini adalah simulasi pertama bagaimana kamu dan pasangan akan menghadapi masalah keuangan di masa depan.

Nah, sebelum mulai berdiskusi dengan orang tua mengenai masalah budget pernikahan, lakukan hal ini terlebih dahulu:
1. Kompak Dulu dengan Pasangan (Unity is Key)
Sebelum duduk bersama orang tua, pastikan kamu dan pasangan sudah satu suara.
- Berapa angka maksimal yang sanggup kalian keluarkan?
- Bagian mana yang bisa dikompromikan dan mana yang “harga mati”?
Jangan sampai orang tua melihat celah ketidakyakinan di antara kalian, karena hal ini sering kali menjadi pintu masuk bagi intervensi yang lebih dalam.
2. Pahami Bahwa “Zaman Sudah Berubah”
Banyak orang tua yang belum menyadari bahwa biaya katering atau sewa gedung di tahun 2026 sudah jauh berbeda dibandingkan saat mereka menikah dulu.
Tips: Jangan hanya bicara “mahal”. Tunjukkan riset kecil-kecilan atau draf vendor yang sudah kamu kumpulkan. Data objektif biasanya lebih mudah diterima daripada argumen emosional.
3. Gunakan Teknik “Apresiasi Sebelum Negosiasi”
Saat harus menolak keinginan orang tua (misalnya menambah 200 undangan tambahan), mulailah dengan rasa terima kasih.
Gunakan kalimat ini:
“Pak, Bu, kami sungguh bersyukur karena Bapak dan Ibu begitu semangat ingin mendukung dan merayakan hari spesial kami nanti dengan penuh sukacita. Namun, setelah kami hitung secara mendetail, budget yang kami siapkan adalah untuk X tamu agar kami bisa memulai hidup baru setelah nikah tanpa cicilan. Bagaimana kalau kita diskusikan bagian mana yang paling prioritas?”
4. Strategi “Siapa yang Bayar, Dia yang Mengatur?”
Ini adalah aturan yang cukup sensitif. Jika orang tua memberikan kontribusi dana yang besar, secara tidak tertulis mereka merasa memiliki hak suara. Jika kamu ingin kendali penuh atas konsep pernikahan, usahakanlah untuk membiayai bagian-bagian krusial sendiri.
Jika orang tua bersikeras menambah tamu, kamu bisa bernegosiasi dengan halus: “Kami sangat senang jika teman-teman Mama bisa hadir, tapi bolehkah kami minta bantuan Mama untuk menutupi selisih biaya katering untuk tambahan tamu tersebut?”
5. Alokasikan “Pos Kompromi”
Pernikahan adalah seni berkompromi. Pilihlah satu atau dua hal yang sangat penting bagi orang tua (misal: menu makanan tertentu atau prosesi adat) dan berikan mereka kebebasan di sana. Sebagai gantinya, kamu memegang kendali penuh pada hal lain, seperti vendor perhiasan, fotografer, atau gaun pengantin.
Catatan penting: Ingatlah bahwa tujuan akhir kalian adalah pernikahan (kehidupan setelah pesta), bukan sekadar pesta pernikahan (acara satu hari). Jangan sampai tabungan masa depan kalian habis hanya untuk memuaskan ekspektasi orang lain.
Strategi Diplomasi: Do’s & Don’ts dalam Berbicara Budget

Biar diskusi dengan orang tua tetap adem dan mencapai titik temu, perhatikan panduan komunikasi berikut ini:
✅ THE DO’S (Lakukan Ini)
- Gunakan Kalimat “Kami”, Bukan “Aku” atau “Dia”: Tunjukkan bahwa setiap keputusan adalah hasil kesepakatan bersama pasangan. Ini meminimalisir kemungkinan salah satu pihak (terutama menantu) disalahkan. Contoh: “Ma, kami berdua sudah coba kalkulasi lagi, dan sepertinya untuk dekorasi kami cukupkan di angka sekian. Harapannya, sisa dananya bisa kami simpan sebagai bekal utama untuk DP rumah tinggal kami nanti.”
- Berbicara dengan Data dan Riset: Orang tua mungkin ingat harga katering 10 tahun lalu. Bawa brosur atau screenshot harga vendor tahun 2026 untuk memberikan gambaran realita pasar saat ini.
- Tentukan “Pos Prioritas”: Berikan pemahaman kepada orang tua mengenai aspek yang kalian anggap sebagai investasi jangka panjang, contohnya perhiasan bernilai tinggi dari V&Co dan jasa fotografer profesional untuk mengabadikan momen sekali seumur hidup.
- Dengarkan Aspirasi Mereka: Terkadang orang tua hanya ingin didengar. Berikan mereka satu “panggung” kecil di mana mereka punya kendali penuh (misalnya: memilih menu gubukan atau seragam keluarga), selama tidak merusak budget utama.
❌ THE DON’TS (Hindari Ini)
- Hindari Kata “Pokoknya”: Kalimat yang bersifat otoriter seperti “Pokoknya aku nggak mau ada tamu lebih dari 100!” akan memicu sikap defensif dari orang tua.
- Jangan Membandingkan dengan Pernikahan Orang Lain: “Tapi nikahannya si X aja simpel, masa kita nggak bisa?” Kalimat ini bisa melukai ego orang tua. Fokuslah pada kondisi finansial kalian sendiri.
- Jangan Membahas Budget di Saat Emosi Tinggi: Pilih waktu yang santai, misalnya saat makan malam bersama atau momen santai di hari libur. Jangan bahas budget saat semua orang sedang lelah pulang kerja.
- Jangan Menerima Uang dengan “Mata Tertutup”: Jika orang tua ingin membantu dana, tanyakan di awal: “Apakah ada syarat tertentu atau tamu tambahan yang Papa/Mama harapkan dengan bantuan ini?” Ini mencegah konflik di kemudian hari.
Script Praktis: Menghadapi Situasi Canggung

Berikut adalah beberapa “naskah” yang bisa kamu gunakan saat situasi mulai terasa sulit:
1. Saat orang tua ingin menambah tamu di luar budget:
- “Kami mengerti Papa ingin mengundang teman-teman kantor lama, tapi kapasitas gedung dan budget katering yang kami siapkan sudah maksimal di angka ini. Kalau Papa berkenan, bolehkah kami minta bantuan Papa untuk menutupi biaya selisih untuk tamu tambahan tersebut?”
2. Saat orang tua ingin konsep yang sangat tradisional/mewah sementara kamu ingin minimalis:
- “Senang sekali rasanya tahu Bapak dan Ibu begitu antusias ingin hari bahagia kami nanti dirayakan dengan meriah. Namun, visi kami adalah memulai pernikahan tanpa cicilan sama sekali agar kami bisa lebih tenang setelah nikah nanti. Bagaimana kalau kita fokuskan kemewahannya di bagian [pilih satu hal, misal: makanan] saja agar tetap berkesan?”
3. Saat menolak bantuan dana yang disertai banyak tuntutan:
- “Terima kasih banyak atas tawaran bantuannya, Ma. Tapi kami sudah berkomitmen untuk mengelola acara ini sesuai dengan kemampuan kami sendiri agar kami belajar mandiri. Kami harap Mama bisa mendukung keputusan kami ini.”
Pada akhirnya, kesuksesan sebuah pernikahan tidak diukur dari seberapa mewah pestanya, tapi seberapa kuat hubungan yang dibangun di dalamnya—termasuk hubungan dengan orang tua. Menetapkan batasan finansial adalah tanda bahwa kamu menghargai masa depanmu dan juga menghargai orang tua dengan cara berkomunikasi secara jujur. Sama seperti memilih perhiasan di V&Co Jewellery, semuanya adalah tentang menemukan titik keseimbangan antara keindahan, kualitas, dan nilai yang tepat.
***
Cover | Foto: Freepik
