Merencanakan pernikahan di tahun 2026 memang terasa exciting—tapi di sisi lain, juga bikin banyak calon pengantin deg-deg-an soal budget nikah. Harga venue naik, pilihan vendor makin beragam, dan godaan Pinterest atau Instagram sering bikin pengeluaran melebar tanpa terasa.
Kabar baiknya, punya pernikahan impian tanpa boncos itu sangat mungkin, asal kamu tahu cara mengatur budget nikah dengan cerdas dan realistis. Artikel ini akan membantumu memahami cara menyusun budget pernikahan 2026 dengan lebih tenang, terencana, dan tetap sesuai impian.
Kenapa Mengatur Budget Pernikahan Itu Penting Sejak Awal?
Mengatur budget pernikahan sejak awal itu penting bukan untuk membatasi mimpi, tapi justru untuk membantu kamu mengontrol prioritas. Dengan budget yang jelas, kamu bisa menjalani proses persiapan dengan lebih tenang, menghindari stres di tengah jalan, serta meminimalkan potensi konflik dengan pasangan.
Keputusan yang diambil pun jadi lebih rasional dan terarah, tanpa harus mengorbankan hal-hal yang benar-benar penting. Pada akhirnya, budget yang sehat akan membuat seluruh proses menuju hari bahagia terasa lebih ringan dan menyenangkan.

1. Menentukan Anggaran Total & Sumber Dana
Sebelum melangkah ke vendor mana pun, hal pertama yang wajib kamu lakukan adalah bicara jujur dengan pasangan. Anggap saja ini adalah “latihan” pertama kalian dalam mengelola rumah tangga. Tentukan total budget pernikahan berdasarkan kemampuan finansial, bukan sekadar ekspektasi sosial. Jujurlah soal berapa total dana dingin yang benar-benar bisa digunakan. Hindari menggunakan dana darurat atau berutang demi pesta satu hari.
Diskusikan juga sumber dananya, apakah murni dari tabungan pribadi, bantuan keluarga, atau kombinasi keduanya. Dengan angka yang jelas sejak awal, kamu bisa menyusun rencana tanpa rasa waswas di tengah jalan. Di tahun 2026 ini, sistem bagi hasil biaya (split bill) antar pasangan adalah hal yang sangat lazim dan modern. Diskusikan apakah akan dibagi rata, berdasarkan persentase gaji, atau pos tertentu dibayar oleh salah satu pihak.
Jika orang tua berniat membantu secara finansial, tanyakan dengan lembut apakah bantuan tersebut disertai “syarat” tertentu (seperti jumlah tamu tambahan). Hal ini penting untuk menghindari konflik di tengah jalan. Jika hari H masih beberapa bulan lagi, hitung berapa yang bisa kalian sisihkan setiap bulan dari gaji masing-masing untuk menambah pundi-pundi biaya pesta.
2. Menentukan Skala Prioritas
Salah satu kesalahan terbesar yang bikin budget nikah membengkak adalah keinginan untuk membuat semua aspek menjadi “nomor satu”. Padahal, rahasia pernikahan hemat namun berkesan adalah memilih mana yang harus mewah dan mana yang bisa disederhanakan.
Di sinilah kunci agar budget tidak “bocor halus”. Cobalah tentukan lima hal yang paling penting bagi kamu dan pasangan. Misalnya:
- Cincin Nikah: Karena ini adalah investasi jangka panjang yang akan dipakai setiap hari.
- Makanan (Katering): Karena kenyamanan tamu adalah prioritas.
- Dokumentasi: Karena foto dan video adalah cara mengabadikan kenangan seumur hidup.
- Venue: Jika lokasi impian adalah harga mati.
- Penampilan (Makeup dan busana pengantin): Agar tampil percaya diri di hari bahagia.
Di luar dari lima hal tersebut, kamu bisa lebih fleksibel. Misalnya, jika katering sudah premium, mungkin dekorasi bisa dibuat lebih minimalis namun tetap manis (tren clean wedding 2026). Dengan menentukan mana yang paling penting untukmu dan pasangan, kamu bisa mengalokasikan dana dengan lebih bijak dan tidak merasa menyesal di kemudian hari.
3. Membagi Alokasi Budget Nikah Secara Realistis
Membagi budget pernikahan bukan berarti harus kaku atau ribet, tapi supaya kamu tahu uangmu “pergi ke mana” dan tidak habis di satu pos saja. Ini akan membantu kamu melihat gambaran besar pengeluaran. Dengan alokasi yang realistis, setiap kebutuhan pernikahan bisa terpenuhi tanpa bikin pusing di akhir.
Sebagai gambaran, dari total budget pernikahan 100%, kamu bisa membaginya seperti ini:
| Pos Pengeluaran | Persentase Budget | Contoh Nominal (Total Rp200 Juta) | Keterangan |
| Venue & Catering | 40–50% | Rp80–100 juta | Termasuk sewa tempat, makanan, dan jumlah tamu |
| Busana Pengantin & Keluarga | 10–15% | Rp20–30 juta | Gaun, jas, makeup, serta busana orang tua |
| Dekorasi & Florals | 10–15% | Rp20–30 juta | Bisa disesuaikan konsep minimalis atau semi-custom |
| Dokumentasi (Foto & Video) | 10–12% | Rp20–24 juta | Investasi kenangan jangka panjang |
| Cincin Nikah & Perhiasan | 5–10% | Rp10–20 juta | Dipakai setiap hari setelah menikah |
| Vendor Pendukung & Lainnya | 5–8% | Rp10–16 juta | MC, WO, entertainment, souvenir, biaya tak terduga |
Angka ini tentu fleksibel dan bisa disesuaikan dengan prioritas masing-masing pasangan. Yang terpenting, pembagian budget membantu kamu tetap sadar finansial, menghindari pengeluaran impulsif, dan tetap bisa menikmati proses persiapan tanpa rasa tertekan.
4. Memilih Vendor dengan Cerdas di Tahun 2026

Di tahun 2026, pilihan vendor semakin beragam dengan paket yang kreatif dan fleksibel. Vendor pernikahan nggak cuma menawarkan paket wedding standar, tapi juga konsep yang lebih personal, fleksibel, dan bisa disesuaikan dengan kebutuhan pasangan. Ini kabar baik—asal kamu cermat memilih.
- Jangan terpaku pada satu vendor saja. Luangkan waktu untuk membandingkan beberapa pilihan, baik dari segi harga, isi paket, maupun gaya kerja mereka. Tanyakan secara detail apa saja yang termasuk dalam paket: durasi layanan, jumlah kru, revisi, hingga kemungkinan biaya tambahan.
- Manfaatkan review dan testimoni pasangan lain. Pengalaman orang lain sering kali memberi gambaran jujur soal profesionalisme vendor, ketepatan waktu, dan cara mereka menghadapi situasi tak terduga di hari-H.
- Pilih vendor yang transparan dan komunikatif sejak awal. Vendor yang jelas soal harga, timeline, dan ruang lingkup pekerjaan biasanya lebih bisa diandalkan dan minim “hidden cost”. Ingat, vendor yang tepat bukan cuma soal murah atau mahal—tapi soal rasa aman dan nyaman selama proses persiapan pernikahanmu.
Dengan memilih vendor secara cerdas, kamu bisa lebih fokus menikmati perjalanan menuju hari bahagia tanpa drama budget di belakang layar.
5. DIY (Do It Yourself) yang Bijak
Banyak pasangan terjebak melakukan DIY untuk semua hal demi hemat, namun akhirnya malah stres dan keluar biaya lebih banyak karena salah eksekusi. Pilihlah DIY yang simpel namun memberikan dampak besar:
- Digital Invitation: Di tahun 2026, undangan digital bukan lagi hal yang dianggap tidak sopan. Selain hemat biaya cetak dan ongkir, undangan digital lebih ramah lingkungan dan mudah diperbarui.
- Souvenir Fungsional: Alih-alih pajangan yang akhirnya dibuang, berikan souvenir yang bermanfaat seperti hand sanitizer kustom, bibit tanaman, atau kopi lokal yang dikemas estetik.
6. Mengelola Biaya Tak Terduga (Buffer Fund)

Selalu sediakan dana cadangan sebesar 10% dari total budget nikah. Biaya tak terduga sering muncul di menit-menit terakhir, seperti biaya seragam keluarga yang mendadak kurang, biaya parkir tambahan, atau tips untuk kru vendor. Memiliki dana cadangan akan membuat kamu tetap tenang saat menghadapi situasi di luar rencana.
Pada akhirnya, pernikahan adalah tentang komitmen antara kamu dan pasangan. Jangan biarkan angka-angka di catatan budget membuat kalian kehilangan kebahagiaan. Pernikahan yang sukses adalah yang dirayakan dengan penuh syukur dan dimulai dengan finansial yang sehat. Dengan komunikasi yang baik, prioritas yang jelas, dan keputusan yang cerdas, kamu bisa mewujudkan pernikahan impian tanpa boncos.
Sama halnya dengan filosofi di balik setiap perhiasan V&Co Jewellery. Kami percaya bahwa kemewahan tidak harus selalu berarti mahal, namun tentang kualitas, kenyamanan, dan makna. Kami hadir untuk membantu kamu menemukan cincin nikah impian yang sesuai dengan rencana anggaran kalian, tanpa mengorbankan standar keindahan sedikit pun.
***
Cover | Foto: Freepik
