Halo, V&Co friends. Sedang merasa dunia persiapan pernikahan tidak seindah yang ditampilkan di Pinterest? Belakangan ini mungkin kamu dan pasangan lebih sering adu argumen soal hal-hal kecil—mulai dari pemilihan warna taplak meja, daftar undangan yang membengkak, hingga urusan budget yang mulai melilit.
Tenang, kamu tidak sendirian. Taka jarang banyak pasangan yang datang ke toko perhiasan dengan sisa lelah setelah perdebatan semalam, namun pulang dengan senyum haru ketika akhirnya mencoba cincin kawin bersama. Persiapan pernikahan memang penuh tekanan, tapi jangan biarkan momen ini mengikis esensi cinta kalian. Yuk, tarik napas dalam-dalam, dan simak cara bijak mengatasi konflik masa pranikah agar hubungan tetap hangat dan solid!
1. Sadari Bahwa Ini Adalah “Ujian Simulasi” Rumah Tangga
Banyak pasangan merasa bahwa pertengkaran saat menyiapkan pernikahan adalah tanda ketidakcocokan. Padahal, yang terjadi justru sebaliknya. Fase wedding planning adalah “laboratorium” pertama di mana dinamika rumah tangga kalian yang sesungguhnya mulai terbentuk.
- Latihan Kompromi dan Ego: Dalam memilih vendor atau menentukan konsep, kamu dan pasangan dihadapkan pada perbedaan selera dan nilai keluarga. Di sinilah ego kalian diuji. Apakah kamu akan memaksakan kehendak, atau mulai belajar seni mendengarkan? Ingat, keputusan besar di masa depan seperti pendidikan anak akan membutuhkan kemampuan kompromi yang jauh lebih besar daripada sekadar memilih warna dekorasi.
- Ujian Manajemen Finansial: Budgeting adalah pemicu stres terbesar. Bagaimana kalian menentukan prioritas antara keinginan dan kebutuhan adalah fondasi ekonomi keluarga. Anggaplah perdebatan soal harga katering sebagai latihan awal mengelola arus kas rumah tangga nantinya.
- Membangun Tim yang Solid: Target akhirnya bukanlah pesta yang sempurna, melainkan tim yang solid. Saat masalah muncul—seperti vendor yang bermasalah—lihatlah bagaimana kalian bereaksi. Apakah saling menyalahkan, atau saling menggenggam tangan mencari solusi?
Tips: Anggaplah setiap argumen sebagai proses “pengasahan”. Layaknya berlian yang harus ditekan dan dipoles berkali-kali untuk mencapai kilau sempurnanya, hubungan kalian pun sedang diproses untuk menjadi lebih kuat dan berharga.
2. Terapkan Aturan “No Wedding Talk” (Kencan Tanpa Bahas Nikah)

Seringkali, hubungan menjadi tegang bukan karena rasa cinta yang berkurang, tapi karena kelelahan mental. Kalian terjebak dalam peran sebagai “Manajer Proyek” dan lupa cara menjadi sepasang kekasih.
- Mengembalikan Identitas Pasangan: Saat setiap pertemuan hanya diisi dengan cek vendor atau menagih konfirmasi tamu, kemesraan perlahan terkikis oleh logistik. Aturan ini bertujuan mengembalikan “ruang aman” di mana kalian bisa tertawa tanpa beban.
- Kencan Berkualitas: Tetapkan satu malam dalam seminggu di mana kata “nikah” atau “vendor” dilarang diucapkan. Fokuslah pada hobi bersama atau bicarakan mimpi masa depan. Ini adalah investasi emosional agar tangki cinta kalian tetap penuh.
3. Identifikasi “Pemicu” Sebenarnya
Tahukah kamu? Pertengkaran hebat soal hal sepele biasanya hanyalah “puncak gunung es” dari masalah yang lebih dalam, seperti rasa tidak didengar atau tekanan dari pihak luar.
- Tekanan Eksternal: Banyak pasangan bertengkar karena intervensi keluarga besar. Mungkin ada ekspektasi orang tua yang sulit dipenuhi, namun kamu atau pasangan merasa sungkan untuk menolak.
- Cara Mengatasinya: Berlatihlah jujur secara radikal namun lembut. Alih-alih marah karena pasangan telat membalas chat vendor, cobalah bertanya: “Apakah kamu sedang merasa tertekan dengan permintaan keluargaku?” Memahami sumber utama masalah akan membantu kalian menemukan solusi dengan jauh lebih mudah.
4. Prioritaskan Apa yang Benar-Benar Penting (The 24-Hour Rule)
Dalam persiapan pernikahan, sangat mudah terjebak detail kecil yang sebenarnya tidak akan diingat orang setahun kemudian. Di sinilah pentingnya memiliki perspektif jangka panjang.
- Fokus pada Hal Permanen: Bedakan antara hal yang “sekali pakai” dan hal yang “selamanya”. Dekorasi akan dibongkar dan makanan akan habis dalam hitungan jam. Jangan biarkan hal yang hanya bertahan 24 jam merusak hubungan yang ingin kamu bangun selamanya.
- Investasi Simbolis: Berikan porsi perhatian lebih besar pada hal-hal abadi, seperti bimbingan pra-nikah dan pemilihan cincin kawin. Cincin kawin dari V&Co Jewellery bukan hanya aksesori, tapi teman setia yang akan kamu pakai dan lihat setiap hari sepanjang perjalanan pernikahanmu. Memprioritaskan hal yang permanen membantu kalian mengabaikan stres akibat detail kecil yang tidak krusial.
5. Jangan Lupa Beristirahat (Self-Care & Time-Out)
Kelelahan fisik adalah musuh utama komunikasi yang sehat. Sumbu sabar manusia seringkali menjadi pendek hanya karena kurang tidur atau terlalu banyak bekerja.
- Pentingnya Jeda: Jika diskusi mulai memanas dan kata-kata mulai menyakitkan, jangan dipaksakan. Ambilah waktu time-out. Bersepakatlah untuk berhenti bicara selama 30 menit untuk menenangkan saraf masing-masing.
- Refleksi Diri: Gunakan waktu jeda untuk beristirahat. Seringkali, setelah tidur yang cukup atau minum teh hangat, masalah yang tadinya terasa sebesar gunung akan tampak jauh lebih sederhana. Kamu tidak bisa memberikan cinta terbaik jika dirimu sendiri sedang “kosong”.
Perjalanan Menuju “I Do” Memang Berliku

Pertengkaran saat persiapan nikah adalah hal yang manusiawi. Yang membedakan pasangan hebat adalah bagaimana mereka saling menggenggam tangan lebih erat saat badai datang. Ingatlah, pernikahan adalah tentang kehidupan setelah pesta, bukan sekadar pesta itu sendiri.
Di V&Co Jewellery, kami tidak hanya ingin kamu terlihat cantik dengan berlian terbaik di hari-H, tapi kami juga ingin kamu melangkah ke pelaminan dengan hati yang damai dan penuh cinta.
Ingin Cooling Down Sambil Cuci Mata?
Kalau suasana hati sedang penat, yuk ajak pasanganmu mampir ke gerai V&Co Jewellery. Terkadang, melihat kembali kilau cincin kawin impian berdua bisa menjadi pengingat manis bahwa semua perjuangan ini akan berakhir indah pada waktunya.
[Lihat Koleksi Cincin Kawin yang Menenangkan Hati di Sini]
***
Cover |Foto: Pexels/Mikhail Nilov
